Historiesnet

Sebuah Pencarian Sejarah

Sabtu, 26 Desember 2020

Asal Usul Kata Hompimpa Alaium Gambreng dan Artinya yang Sakral

 


Anak-anak generasi 80-90 an pasti tidak asing dengan mantra yang diucapkan bersama-sama sebelum memulai sebuah permainan ini yakni “HOMPIMPA ALAIUM GAMBRENG”.  Sekadar informasi bagi anak-anak generasi 2000 an ke atas yang mungkin asing dengan hal ini, Hompimpa wajib dilakukan untuk mengundi atau menentukan siapa yang kalah atau menang seperti suit. Bedanya dengan suit adalah, suit dilakukan bila pesertanya cuma dua orang, sedangkan bila pesertanya jamak alias banyak (lebih dari dua) maka harus dilakukan “Hompimpa” dengan membolak balikkan antara telapak tangan dan punggung telapak sampil bersama-sama mengucap mantera “Hompimpa Alaium Gambreng”, tepat setelah mengucapkan mantera tersebut pergerakan membolak-balikkan telapak tangan harus berhenti. Dengan begitu akan kelihatan siapa yang terpilih. Misalnya ada empat anak yang melakukan Hompimpa, jika satu anak menunjukkan punggung telapak dan yang ketiga anak lainnya menunjukkan telapak tangan maka satu anak yang berbeda ini lah yang terpilih, sesuai kesepakatan disebut menang atau kalah. Misalnya dalam permainan petak umpet maka yang kalah dalam hompimpa akan mendapat tugas mencari teman-teman lainnya yang bersembunyi.

Hompimpa mulai banyak diperagakan oleh anak-anak Indonesia setelah dipopulerkan oleh acara TV Si Unyil di TVRI pada tahun 1981 sampai tahun 1993. Sebelumnya memang sudah ada Hompimpa namun menurut para pengamat peran sing Unyil lah yang menjadi trend center anak-anak di masanya. Lalu sejak kapankah sebenarnya Hompimpa sudah mulai dikenal di kalangan anak-anak Indonesia?

Pakar Permainan Tradisional Indonesia, Zaini Alif, yang juga merupakan pendiri Komunitas Hong (Pusat Kajian dan Permainan Anak) sudah melakukan kajian dan penelitian yang menyimpulkan bahwa asal muasal kata Hompimpa Alaium Gambreng adalah berasal dari bahasa sansekerta “Hongpimpa Alaihong” yang bermakna “dari Tuhan kembali ke Tuhan”, sedangkan “Gambreng” memiliki makna “ayo bermain” atau semacam aba-aba grak. Hal ini diungkap oleh Zaini dalam presentasinya saat sedang mengisi acara di TEDx Jakarta pada 2013 silam


Nah, kawan-kawan sudah tahu kan apa makna dari mantera permainan tersebut, yang ternyata makna filosifinya dalam sekali. Itu membuktikan bahwa orang-orang jaman terdahulu sangat arif dan berkebudayaan, bahkan untuk mengawali sebuah permainan saja tidak lupa dimasukkan pesan-pesan kepasrahan kepada sang Pencipta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar